Kamis, 28 Januari 2010

Dasar-Dasar

Jurnalistik


Oleh: Taufik Ridwan

Pesatnya kemajuan media informasi dewasa ini cukup memberikan kemajuan yang signifikan. Media cetak maupun elektronik pun saling bersaing kecepatan sehingga tidak ayal bila si pemburu berita dituntut kreativitasnya dalam penyampaian informasi. Penguasaan dasar-dasar pengetahuan jurnalistik merupakan modal yang amat penting manakala kita terjun di dunia ini. Keberadaan media tidak lagi sebatas penyampai informasi yang aktual kepada masyarakat, tapi media juga mempunyai tanggung jawab yang berat dalam menampilkan fakta-fakta untuk selalu bertindak objektif dalam setiap pemberitaannya.

Apa Itu Jurnalistik?

Menurut Kris Budiman, jurnalistik (journalistiek, Belanda) bisa dibatasi secara singkat sebagai kegiatan penyiapan, penulisan, penyuntingan, dan penyampaian berita kepada khalayak melalui saluran media tertentu. Jurnalistik mencakup kegiatan dari peliputan sampai kepada penyebarannya kepada masyarakat. Sebelumnya, jurnalistik dalam pengertian sempit disebut juga dengan publikasi secara cetak. Dewasa ini pengertian tersebut tidak hanya sebatas melalui media cetak seperti surat kabar, majalah, dsb., namun meluas menjadi media elektronik seperti radio atau televisi. Berdasarkan media yang digunakan meliputi jurnalistik cetak (print journalism), elektronik (electronic journalism). Akhir-akhir ini juga telah berkembang jurnalistik secara tersambung (online journalism).

Jurnalistik atau jurnalisme, menurut Luwi Ishwara (2005), mempunyai ciri-ciri yang penting untuk kita perhatikan.

a. Skeptis

Skeptis adalah sikap untuk selalu mempertanyakan segala sesuatu, meragukan apa yang diterima, dan mewaspadai segala kepastian agar tidak mudah tertipu. Inti dari skeptis adalah keraguan. Media janganlah puas dengan permukaan sebuah peristiwa serta enggan untuk mengingatkan kekurangan yang ada di dalam masyarakat. Wartawan haruslah terjun ke lapangan, berjuang, serta menggali hal-hal yang eksklusif.

b. Bertindak (action)

Wartawan tidak menunggu sampai peristiwa itu muncul, tetapi ia akan mencari dan mengamati dengan ketajaman naluri seorang wartawan.

c. Berubah

Perubahan merupakan hukum utama jurnalisme. Media bukan lagi sebagai penyalur informasi, tapi fasilitator, penyaring dan pemberi makna dari sebuah informasi.

d. Seni dan Profesi

Wartawan melihat dengan mata yang segar pada setiap peristiwa untuk menangkap aspek-aspek yang unik.

e. Peran Pers

Pers sebagai pelapor, bertindak sebagai mata dan telinga publik, melaporkan peristiwa-peristiwa di luar pengetahuan masyarakat dengan netral dan tanpa prasangka. Selain itu, pers juga harus berperan sebagai interpreter, wakil publik, peran jaga, dan pembuat kebijaksanaan serta advokasi.

Berita

Ketika membahas mengenai jurnalistik, pikiran kita tentu akan langsung tertuju pada kata "berita" atau "news". Lalu apa itu berita? Berita (news) berdasarkan batasan dari Kris Budiman adalah laporan mengenai suatu peristiwa atau kejadian yang terbaru (aktual); laporan mengenai fakta-fakta yang aktual, menarik perhatian, dinilai penting, atau luar biasa. "News" sendiri mengandung pengertian yang penting, yaitu dari kata "new" yang artinya adalah "baru". Jadi, berita harus mempunyai nilai kebaruan atau selalu mengedepankan aktualitas. Dari kata "news" sendiri, kita bisa menjabarkannya dengan "north", "east", "west", dan "south". Bahwa si pencari berita dalam mendapatkan informasi harus dari keempat sumber arah mata angin tersebut.

Selanjutnya berdasarkan jenisnya, Kris Budiman membedakannya menjadi "straight news" yang berisi laporan peristiwa politik, ekonomi, masalah sosial, dan kriminalitas, sering disebut sebagai berita keras (hard news). Sementara "straight news" tentang hal-hal semisal olahraga, kesenian, hiburan, hobi, elektronika, dsb., dikategorikan sebagai berita ringan atau lunak (soft news). Di samping itu, dikenal juga jenis berita yang dinamakan "feature" atau berita kisah. Jenis ini lebih bersifat naratif, berkisah mengenai aspek-aspek insani (human interest). Sebuah "feature" tidak terlalu terikat pada nilai-nilai berita dan faktualitas. Ada lagi yang dinamakan berita investigatif (investigative news), berupa hasil penyelidikan seorang atau satu tim wartawan secara lengkap dan mendalam dalam pelaporannya.

Nilai Berita

Sebuah berita jika disajikan haruslah memuat nilai berita di dalamnya. Nilai berita itu mencakup beberapa hal, seperti berikut.

  1. Objektif: berdasarkan fakta, tidak memihak.
  2. Aktual: terbaru, belum "basi".
  3. Luar biasa: besar, aneh, janggal, tidak umum.
  4. Penting: pengaruh atau dampaknya bagi orang banyak; menyangkut orang penting/terkenal.
  5. Jarak: familiaritas, kedekatan (geografis, kultural, psikologis).

Lima nilai berita di atas menurut Kris Budiman sudah dianggap cukup dalam menyusun berita. Namun, Masri Sareb Putra dalam bukunya "Teknik Menulis Berita dan Feature", malah memberikan dua belas nilai berita dalam menulis berita (2006: 33). Dua belas hal tersebut di antaranya adalah:

  1. sesuatu yang unik,
  2. sesuatu yang luar biasa,
  3. sesuatu yang langka,
  4. sesuatu yang dialami/dilakukan/menimpa orang (tokoh) penting,
  5. menyangkut keinginan publik,
  6. yang tersembunyi,
  7. sesuatu yang sulit untuk dimasuki,
  8. sesuatu yang belum banyak/umum diketahui,
  9. pemikiran dari tokoh penting,
  10. komentar/ucapan dari tokoh penting,
  11. kelakuan/kehidupan tokoh penting, dan
  12. hal lain yang luar biasa.

Dalam kenyataannya, tidak semua nilai itu akan kita pakai dalam sebuah penulisan berita. Hal terpenting adalah adanya aktualitas dan pengedepanan objektivitas yang terlihat dalam isi tersebut.

Anatomi Berita dan Unsur-Unsur

Seperti tubuh kita, berita juga mempunyai bagian-bagian, di antaranya adalah sebagai berikut.

  1. Judul atau kepala berita (headline).
  2. Baris tanggal (dateline).
  3. Teras berita (lead atau intro).
  4. Tubuh berita (body).

Bagian-bagian di atas tersusun secara terpadu dalam sebuah berita. Susunan yang paling sering didengar ialah susunan piramida terbalik. Metode ini lebih menonjolkan inti berita saja. Atau dengan kata lain, lebih menekankan hal-hal yang umum dahulu baru ke hal yang khusus. Tujuannya adalah untuk memudahkan atau mempercepat pembaca dalam mengetahui apa yang diberitakan; juga untuk memudahkan para redaktur memotong bagian tidak/kurang penting yang terletak di bagian paling bawah dari tubuh berita (Budiman 2005) . Dengan selalu mengedepankan unsur-unsur yang berupa fakta di tiap bagiannya, terutama pada tubuh berita. Dengan senantiasa meminimalkan aspek nonfaktual yang pada kecenderuangan akan menjadi sebuah opini.

Untuk itu, sebuah berita harus memuat "fakta" yang di dalamnya terkandung unsur-unsur 5W + 1H. Hal ini senada dengan apa yang dimaksudkan oleh Lasswell, salah seorang pakar komunikasi (Masri Sareb 2006: 38).

  1. Who - siapa yang terlibat di dalamnya?
  2. What - apa yang terjadi di dalam suatu peristiwa?
  3. Where - di mana terjadinya peristiwa itu?
  4. Why - mengapa peristiwa itu terjadi?
  5. When - kapan terjadinya?
  6. How - bagaimana terjadinya?

Tidak hanya sebatas berita, bentuk jurnalistik lain, khususnya dalam media cetak, adalah berupa opini. Bentuk opini ini dapat berupa tajuk rencana (editorial), artikel opini atau kolom (column), pojok dan surat pembaca.

Sumber Berita

Hal penting lain yang dibutuhkan dalam sebuah proses jurnalistik adalah pada sumber berita. Ada beberapa petunjuk yang dapat membantu pengumpulan informasi, sebagaimana diungkapkan oleh Eugene J. Webb dan Jerry R. Salancik (Luwi Iswara 2005: 67) berikut ini.

  1. Observasi langsung dan tidak langsung dari situasi berita.
  2. Proses wawancara.
  3. Pencarian atau penelitian bahan-bahan melalui dokumen publik.
  4. Partisipasi dalam peristiwa.

Kiranya tulisan singkat tentang dasar-dasar jurnalistik di atas akan lebih membantu kita saat mengerjakan proses kreatif kita dalam penulisan jurnalistik.

Sumber bacaan:

Budiman, Kris. 2005. "Dasar-Dasar Jurnalistik: Makalah yang disampaikan dalam Pelatihan Jurnalistik -- Info Jawa 12-15 Desember 2005. Dalam www.infojawa.org.

Ishwara, Luwi. 2005. "Catatan-Catatan Jurnalisme Dasar". Jakarta: Penerbit Buku Kompas.

Putra, R. Masri Sareb. 2006. "Teknik Menulis Berita dan Feature". Jakarta: Indeks

Catatan II: Catatan Kuliah Jurnalistik


CATATAN KULIAH

J U R N A L I S T I K

1. Jurnalistik

§ Pada dasarnya, lembaga penyebaran informasi yang disebut sebagai “pers” atau “media massa” lahir dari naluri alamiah manusia untuk me­nge­tahui apa yang terjadi di sekitarnya.

§ Pers atau media massa dibentuk manakala penyebaran informasi kepada masyarakat dilakukan secara lebih sistematis, terorganisasi, dan meng­gunakan teknologi komunikasi modern. Fungsi utama dari lembaga pers adalah: mengantarkan informasi kepada khalayak.

§ Menurut Wright (1988), pers sebagai bagian dari media massa, memiliki 4 fungsi, yaitu: (1) fungsi pengawasan; (2) fung­si ko­relasi; (3) fungsi transmisi warisan sosial atau pendidikan; dan (4) fungsi hibur­an.

§ Pengertian jurnalistik:

Dja’far H. Assegaff: “kegiatan untuk menyampaikan pesan/be­ri­ta kepada kha­layak ramai (massa), melalui saluran media, entah media tadi media ce­tak maupun elektronika"

Mursito BM: “kegiatan mencari, mengumpulkan, me­nulis, mengedit, dan menyiarkan informasi”.

§ Walaupun inti kegiatan jurnalistik nampaknya sederhana, yaitu “hanya” mengumpulkan, menulis, dan menyiarkan informasi; namun sebenarnya kegiatan jurnalistik sangat kompleks dan rumit, sebab ada tarik menarik berbagai ke­pentingan (idealisme jurnalistik, tuntutan masyarakat, keku­at­an politik dan keamanan, dan kepentingan ekonomi atau bisnis).

2. Realitas Media dan Obyektivitas

§ Tulisan-tulisan di media cetak umumnya berisi 3 kategori: (1) fakta, me­liputi: berita dan feature (karangan khas); (2) opini, meliputi: tajuk ren­ca­na, artikel, pojok, karikatur, dan surat pembaca; dan (3) iklan atau ad­vetorial. Kegiatan jurnalistik bertujuan menghasilan tulisan berisi fakta, bukan pendapat atau imajinasi wartawan.

§ Kegiatan jurnalistik ini pada dasarnya adalah kegiatan untuk “memin­dah­­kan realitas empirik ke dalam realitas media”. Realitas media bukan­lah realitas empirik, karenanya harus memenuhi standar obyek­tivitas.

§ Ada 2 (dua) elemen obyektivitas, yaitu: faktualitas dan impartialitas (Mur­sito, 2006:176). Faktualitas menyangkut kebenaran dan relevansi; se­dang­kan impartialitas berkenaan dengan keseimbangan dan netralitas.

Kebenaran

Faktualitas

Relevansi

Obyektivitas

Keseimbangan

Impartialitas

Netralitas

§ Kebenaran dan akurasi dapat dicapai apabila wartawan di dalam meng­gali informasi berusaha untuk melakukan verifikasi (pengujian) terhadap fakta yang ditemuinya. Istilah yang seringkali digunakan adalah mela­ku­kan check dan recheck, artinya menggali berbagai sumber untuk mem­per­oleh satu informasi.

§ Relevansi berarti bahwa fakta-fakta yang ditampilkan harus relevan dan kontekstual dengan peristiwa yang diberitakan. Sekalipun suatu banyak fakta yang bisa ditulis, namun apabila fakta tersebut tidak berkaitan lang­sung dengan peristiwa; berita yang diturunkan bisa tidak lagi obyek­tif, namun bersifat spekulatif.

§ Dimensi pertama dari impartialitas adalah: keseimbangan, atau sering ju­ga disebut dengan istilah: cover both sides. Di dalam pemberitaannya, pers dituntut untuk memberikan porsi yang sama kepada semua pihak yang terlibat di dalam suatu peristiwa.

§ Impartialitas juga memiliki sisi yang lain, yaitu: netralitas. Di dalam pem­beritaan, pers tidak boleh berdiri di salah satu pihak atau pendapat/pan­dangan atas suatu peristiwa. Pers hanya boleh berdiri di satu pihak saja, yaitu: kebenaran.

3. Berita dan Nilai Berita (News Value)

§ Definisi berita secara singkat dinyatakan oleh Charnley sebagai: “laporan yang hangat, padat, dan cermat mengenai suatu kejadian, bukan keja­diannya itu sendiri” (Wonohito, 1977:12).

§ Sedangkan Assegaff (1991:24) mendefinisikan berita sebagai:

“laporan tentang fakta atau ide termasa, yang dipilih oleh staf re­dak­si suatu harian untuk disiarkan, yang dapat menarik perhatian pem­ba­ca, entah karena ia luar biasa, entah karena pentingnya atau aki­batnya, entah pula karena ia mencakup segi-segi human interest se­per­ti humor, emosi, dan ketegangan”

§ Dari definisi di atas, dapat dipahami bahwa tidak semua peristiwa adalah berita. Suatu peristiwa akan menjadi berita apabila peristiwa itu dilapor­kan oleh wartawan dan dimuat di media massa. Dan suatu laporan peris­tiwa bisa dimuat di media massa apabila ia dianggap punya nilai berita (news value) atau layak untuk diberitakan.

§ Secara umum, suatu kejadian dipandang memiliki news value apabila mengandung satu atau beberapa unsur berikut ini:

1. Significance (penting): peristiwa itu berkemungkinan mempengaruhi kehidupan orang banyak, atau yang memiliki akibat terhadap kehidup­an pembaca.

2. Magnitude (besar): kejadian itu menyangkut angka-angka yang berarti bagi kehidupan orang banyak, atau kejadian itu bersifat kolosal.

3. Timeliness (waktu): aktual, hangat, atau termasa; menyangkut hal-hal yang baru terjadi.

4. Proximity (dekat): kejadian yang memiliki kedekatan dengan pembaca, baik secara geografis maupun emosional/psikologis.

5. Prominence (tenar): menyangkut hal atau orang yang terkenal atau sa­ngat dikenal oleh pembaca.

6. Human interest (manusiawi): menyangkut hal-hal yang bisa menyentuh perasaan pembaca.

§ Sekalipun suatu peristiwa memiliki nilai berita, namun tidak secara oto­ma­tis peristiwa itu bisa disiarkan sebagai berita. Ada satu kriteria lagi yang harus dipenuhi, yaitu: layak cetak (fit to print). Tidak semua peristi­wa yang memiliki news value layak untuk dicetak, yaitu peristiwa-peris­tiwa yang dinilai bisa mendatangkan keresahan atau persoalan dalam ma­sya­rakat.

4. Jenis Berita dan Sumber Berita

§ Assegaff menyatakan bahwa jenis berita bisa dibagi berdasar 4 hal pokok:

1. Berdasar sifat kejadian:

(a) Berita yang diduga (peringatan hari-hari besar, peristiwa yang sudah dijadwalkan)

(b) Berita yang tidak diduga, di mana suatu peristiwa terjadi secara insidental, dan wartawan mem­peroleh petunjuk (lead atau tip off) dari berbagai sumber di masya­ra­kat (individu maupun lembaga/ or­ga­ni­sasi).

2. Berdasar soal atau masalah atau topik yang dicakup: politik, ekonomi, sosial, budaya, kriminal, bencana, olahraga, pendidikan, hiburan, dan sebagainya. Biasanya berita-berita ini di dalam penerbitannya dike­lom­­pokkan ke dalam berbagai rubrik di halaman tertentu.

3. Berdasar jarak kejadian dan publikasi: berita internasional (luar nege­ri), berita nasional, berita regional (tingkat propinsi), dan berita lokal (tingkat kabupaten/kota).

4. Berdasar isi berita: straight news (berita langsung) atau hard news (berita keras), berita lunak atau ringan (soft news), feature (karangan khas), comperehensive/indepth news (berita mendalam), dan investi­gative news.

§ Berita bisa diperoleh dari berbagai sumber. Sumber-sumber tersebut an­tara lain:

1. Kantor berita (misalnya: Antara, Reuter): menyediakan “berita jadi”, sehingga redaktur tinggal mengutip atau menterjemahkannya. Biasa­nya digunakan untuk memperoleh berita-berita luar negeri.

2. Press release dan konferensi pers, di mana materi utama sudah disiap­kan oleh pihak lain, wartawan perlu mengolah materi tersebut menjadi berita.

3. Liputan langsung, di mana wartawan melakukan observasi langsung di tempat kejadian dan melakukan wawancara dengan narasumber.

4. Dokumentasi, wartawan mencari bahan-bahan dari dokumen, pustaka, arsip, atau kliping berita mengenai masalah tertentu.

§ Berita sebagai hasil liputan langsung (dan wawancara) adalah berita yang di­anggap memiliki nilai paling tinggi. Sumber-sumber berita yang lain di­gu­nakan sebagai sumber bahan/informasi pendukung hasil liputan.

5. Mencari Berita

§ Dari mana saja seorang wartawan memperoleh berita? Ada beberapa tempat yang bisa menjadi titik awal pencarian berita:

1. News Room Briefing

Biasanya, setiap hari diadakan pertemuan di ruang berita (news room) suatu surat kabar untuk memberikan briefing kepada para wartawan dan redaktur mengenai berita apa saja yang harus diliput pada hari itu dan pembagian tugas-tugas liput­an.

Dalam briefing itu juga dibuat rencana peliputan bagi peristiwa-peris­ti­wa yang sudah diduga atau yang sudah terjadwal sebelumnya, atau follow up (pengembangan) dari suatu berita yang lalu.

2. Regular contacts/informers

Setiap wartawan harus memiliki kontak/informan yang secara teratur menjadi sumber berita. Setiap hari wartawan mendatangi atau meng­hu­­bu­ngi kontak/informan itu untuk mengetahui apakah ada peristiwa atau hal yang penting untuk diberitakan.

Kontak-kontak itu antara lain bisa diperoleh di: kantor polisi, rumah sakit, kantor pengadilan, kantor humas lembaga tertentu, dan tempat atau individu lain yang selama ini telah menjalin hubungan sebagai sumber berita bagi wartawan.

Selain untuk memperoleh berita baru, kontak/informan ini sangat ber­peran ketika seorang wartawan ingin melakukan follow up/peng­em­bang­an sebuah berita yang sudah dimuat sebelumnya.

3. Tip off (lead)

Seringkali, wartawan memperoleh petunjuk (tip off/lead) mengenai sua­tu kejadian yang baru saja terjadi. Petunjuk ini bisa datang dari mana saja. Ada wartawan kriminal yang memiliki radio scanner untuk me­mo­nitor lalu-lintas komunikasi polisi atau UGD rumah sakit, sehingga ia bisa mengetahui dengan cepat ketika terjadi suatu peristiwa.

4. Langsung di tempat peristiwa yang tak terduga

Sekalipun sangat jarang terjadi, namun kadang-kadang wartawan se­ca­ra kebetulan sedang berada di lokasi di mana suatu peristiwa yang tak terduga terjadi. Wartawan bisa melakukan liputan langsung (on the spot).

Oleh karena hal ini sangat jarang terjadi, maka berita yang diha­silkan secara on the spot ini bernilai sangat tinggi. Karena ini benar-benar me­nunjukkan kemampuan seorang wartawan untuk peka/sensitif terha­dap apa yang sedang teradi di sekitarnya, ketajamannya untuk “menci­um” nilai berita, dan kemampuannya untuk mengumpulkan informasi tanpa persiapan sebelumnya.

§ Setelah seorang wartawan mendapat petunjuk yang jelas mengenai peris­tiwa apa yang akan diliput, maka langkah selanjutnya adalah mendatangi lokasi peristiwa tersebut untuk melakukan pengumpulan informasi, baik melalui observasi maupun wawancara.

Oleh karena biasanya peristiwa yang akan diliput itu merupakan peristi­wa yang sudah terjadi, maka sumber informasi utama seorang wartawan adalah dari hasil wawancara dengan sumber-sumber berita (informan).

6. Liputan dan Wawancara

§ Liputan dilakukan dengan cara melakukan observasi dan wawancara se­ca­ra langsung pada peristiwa yang akan dilaporkan. Hal ini bisa dilaku­kan untuk berita-berita yang sudah diduga atau terjadwal.

§ Di dalam melakukan liputan, wartawan harus bisa mengumpulkan infor­masi yang lengkap, meliputi informasi tentang apa, siapa, kapan, di mana, bagaimana, dan mengapa (5W + 1H).

§ Untuk berita-berita yang tak terduga, yang biasanya sudah terjadi tanpa kehadiran wartawan di tempat peristiwa, maka wartawan melakukan lipu­tan dengan menggali informasi melalui wawancara.

§ Wawancara atau interview merupakan salah satu cara menggali infor­ma­si lewat percakapan antara wartawan dengan seseorang yang menjadi sum­ber berita.

§ Wartawan tidak bisa mewawancarai sembarang orang. Interviewee (yang diwawancarai) adalah seseorang atau sejumlah orang yang oleh karena ke­dudukannya, peranannya/keterlibatannya, kompe­ten­si/ke­ahli­an, dan pe­ngalamannya, dianggap memiliki informasi yang penting, yang dibutuh­kan wartawan sebagai bahan penulisan berita.

§ Berdasar sasaran yang hendak dicapai dan cara yang digunakan, ada be­berapa jenis wawancara, sebagai berikut:

1. Factual news interview

Wawancara dengan sumber berita yang memiliki otoritas atau menge­ta­hui dengan persis suatu peristiwa atau permasalahan yang hendak di­be­ritakan.

2. Casual interview

Wawancara yang tidak diatur atau direncanakan lebih dahulu. Dilaku­kan secara mendadak pada saat wartawan bertemu dengan sumber be­rita.

3. Group interview

Wawancara yang dilakukan oleh sejumlah wartawan dari berbagai me­dia massa dengan seorang atau lebih sumber berita. Hal ini terjadi ter­utama pada acara konferensi pers atau jumpa pers.

4. Personality interview

Wawancara yang memiliki tujuan khusus, yaitu uintuk menggali penje­lasan lebih jauh mengenai pribadi seseorang. Biasanya berkaitan de­ngan penulisan profil seseorang.

§ Persiapan yang dilakukan sebelum melakukan wawancara meliputi:

1. Menyusun pertanyaan mengenai permasalahan yang akan ditanyakan secara runtut.

2. Memastikan bahwa sumber berita benar-benar menguasai permasa­lah­an yang akan ditanyakan.

3. Melakukan kontak/perjanjian dengan sumber berita untuk memasti­kan waktu dan permasalahannya.

4. Apabila diminta, wartawan bisa memberikan daftar pertanyaan terlebih dahulu, agar sumber berita siap dengan bahan yang diperlukan.

5. Persiapkan alat-alat yang akan digunakan untuk mencatat atau mere­kam hasil wawancara, misalnya: notes, pena, dan alat perekam.

§ Pelaksanaan wawancara:

1. Cek lebih dahulu perjanjian yang sudah dibuat dengan sumber berita.

2. Bersikap sopan dan memperkenalkan diri lebih dahulu dengan menye­butkan identitas (nama dan asal media massa).

3. Ajukan pertanyaan secara ringkas, jelas, dan to the point.

4. Apabila sumber berita terkesan berusaha menutupi informasi, ajukan pertanyaan yang tidak langsung.

5. Jangan memberondong sumber berita dengan pertanyaan. Dengarkan apa jawaban sumber berita atas pertanyaan sebelumnya.

6. Membuat suasana santai. Jangan mengeluarkan notes, alat perekam, atau mengambil foto tanpa lebih dahulu meminta ijin.

7. Cara terbaik adalah: tidak mencatat selama melakukan wawancara. Namun, berusaha mengingat isi pembicaraan; dan setelah selesai wa­wancara, baru menuliskan catatannya.

8. Berusaha untuk menjaga agar masalah tidak keluar dari kerangkanya atau melebar ke pembicaraan yang tidak relevan.

9. Tidak mengajukan pertanyaan yang “bodoh”. Misalnya pertanyaan yang klise, atau pertanyaan retoris, atau pertanyaan yang tidak peka kepada perasaan sumber berita.

10. Apabila akan mengalihkan percakapan ke permasalah yang berbeda, mintalah ijin terlebih dahulu kepada sumber berita.

11. Menjaga/melindungi kerahasiaan identitas sumber berita Yang ideal adalah apabila sumber berita mau disebutkan identitasnya dengan jelas. Namun apabila ia berkeberatan, maka wartawan harus menjaga kerahasiaan identitasnya.

12. Wartawan juga harus menghormati permintaan untuk off the record, di mana informasi yang diberikan oleh sumber berita hanya boleh diketahui oleh wartawan dan redaktur, namun tidak boleh dimuat di dalam berita di media massa.

13. Apabila mengakhiri wawancara, ucapkan terima kasih, dan mintalah kesediaan sumber berita untuk dihubungi lagi pada kesempatan yang lain.

7. Unsur-unsur Berita

§ Pembuatan berita adalah suatu proses; dimulai sejak suatu peristiwa itu terjadi, sampai dengan informasi tentang peristiwa itu dibaca oleh khala­yak.

§ Oleh karena berita harus segera dimuat dan aktual, maka berita haruslah padat, langsung, singkat, dan dengan bahasa yang lugas (tidak berbunga-bunga). Penulisan berita harus disesuaikan dengan ke­butuhan pembaca, yang karena kesibukannya tidak memiliki banyak waktu untuk membaca berita berlama-lama.

§ Unsur-unsur berita yang harus dicakup meliputi jawaban atas 6 (enam) pertanyaan yang lazim disebut 5W + 1H (what, who, where, when, why, dan how): Apa yang terjadi? Siapa(-siapa) yang terlibat dalam kejadian itu? Di mana kejadiannya? Bilamana (kapan) peristiwa itu tejadi? Meng­apa (apa yang menyebabkan) kejadian itu timbul? Bagaimana kejadian­nya (proses dan/atau duduk perkaranya)?

1. Apa

Berkaitan dengan hal-hal yang dilakukan oleh pelaku maupun korban (kalau ada) dalam suatu kejadian.

2. Siapa

Mengandung fakta yang berkaitan dengan setiap orang yang terliba da­lam suatu kejadian. Orang yang terlibat itu harus dapat diidentifikasi selengkap-lengkapnya: nama, usia, alamat, pekerjaan, jabatan, dan atribut-atribut lain yang melekat pada diri orang tersebut.

3. Di mana

Menyangkut tempat kejadian. Nama tempat harus bisa diidentifikasi de­ngan jelas. Akan lebih baik apabila karakteristik tempat kejadian ter­sebut juga diberitakan.

4. Bilamana

Berkaitan dengan waktu kejadian atau kemungkinan (perkiraan waktu) yang ber­ka­itan dengan kejadian tersebut.

5. Mengapa

Berisi fakta yang mengandung latar belakang atau penyebab terjadinya suatu peristiwa.

6. Bagaimana

Memberikan fakta yang berkaitan dengan proses kejadian yang diberi­ta­­kan: bagaimana terjadinya, bagaimana pelaku melakukan perbuatan­nya, atau bagaimana kroabn mengalami nasibnya.

8. Format Berita Langsung (Straight News)

§ Ciri berita langsung (straight news) yang paling mudah dikenali adalah pada permulaan berita: setelah judul, diikuti dengan keterangan tempat dan disusul dengan nama penerbit pers yang bersangkutan, misal: “Jakar­ta, Kompas”. Keterangan ini lazim disebut sebagai timeline.

§ Dari susunan uraiannya, berita langsung bisa dikenali dari strukturnya yang dikenal dengan istilah piramida terbalik; di mana bagian yang pa­paling penting ditempatkan di bagian paling awal (atas), disusul dengan bagian yang kurang penting. Penggunaan struktur semacam ini berkaitan dengan keterbatasan waktu pembaca dan keterbatasan ruang (space) di halaman surat kabar.

§ Setiap tulisan yang berbentuk berita langsung, sekurang-kurangnya me­muat 3 bagian, yakni: pembukaan (lead), tubuh (body), dan penutup.

Menulis lead merupakan pekerjaan tersulit. Lead merupakan bagian terpenting, paling kuat/menonjol; merupakan rangkuman inti sari dari sebuah berita. Ka­dang lead memuat keseluruhan unsur 5W + 1H. Dalam kasus di mana lead tidak memuat seluruh unsur 5W + 1H, maka bebera­pa unsur yang paling menonjol dalam peristiwa itu yang dimuat di sana.

§ Bagian tubuh (body) menguraikan lebih lanjut unsur-unsur fakta yang ter­dapat di dalam lead. Unsur mengapa dan bagaimana biasanya yang paling banyak diuraikan. Di bagian ini terdapat bagian yang disebut de­ngan “perluasan bagian utama/lead”, biasanya memuat unsur-unsur be­rita yang belum termuat di dalam lead.

§ Assegaff (1982:54) menyarankan 5 pedoman pokok dalam penulisan beri­ta: (1) laporan berita haruslah bersifat menyeluruh; (2) keter­tiban dan ke­ter­aturan mengikuti gaya menulis berita; (3) tepat dalam peng­gunaan ba­hasa dan tata bahasa; (4) ekonomi kata harus diperhatikan; (5) gaya pe­nulisan haruslah hidup, punya makna, warna dan imaginasi,

§ Penutup merupakan akhir dari uraian berita, namun bukan berupa ke­simpulan. Dalam struktur piramida terbalik, bagian ini tidak terlalu pen­ting. Ketika suatu berita ternyata memakan tempat melebihi space yang tersedia di halaman surat kabar, maka bagian inilah yang akan dipotong (dihilangkan) paling dahulu.

§ Contoh-contoh teknik penulisan judul, lead, body, dan penutup bisa dili­hat dalam Mursito (1999:63-75) dan Assegaff (1982:51-54).

Kepustakaan:

Assegaff, D.H. (1982). Jurnalistik Masa Kini. Jakarta: Ghalia Indonesia. Hal. 9-55.

Mursito, B.M. (1999). Penulisan Jurnalistik: Konsep dan Teknik Penulisan Be­rita. Surakarta: Spikom. Hal. 25-75.


Contoh Penulisan Straight News

Fakta

Apa : Pembongkaran kios-kios pedagang kaki lima

Di mana : Sepanjang Jl. Mayor Kusmanto.

Siapa : Pembongkaran dilakukan oleh pemilik kios.

Kapan : Mulai dibongkar tanggal 16 Agustus 2007 pagi. Batas waktu pembongkaran 28 Agustus 2007.

Mengapa : Pemkot Solo membongkar dinding yang mengelilingi Benteng Vastenburg yang menjadi tempat menempelnya kios-kios tersebut.

Bagaimana : Tanggal 14 Agustus 2007, Widodo (Kasubdin Kebersihan DKP Pemkot Solo) dan petugas Satpol PP memberikan pengarahan kepada para pemilik kios, bahwa dinding yang mengelilingi Benteng Vastenburg akan dibongkar. Para pemilik kios setuju, karena akan mendapat jatah selter sebagai pengganti kios.

Tanggal 15 Agustus 2007, pembongkaran dinding oleh petugas dari DKP.

Tanggal 16 Agustus 2007 pemilik kios mulai melakukan pembongkaran, mendapat bantuan truk DKP untuk mengangkut barang dagangan.

Straight News

KIOS PKL DI JL. MAYOR KUSMANTO DIBONGKAR

Solo (Suara Solo)

Mulai Kamis (16/8) pagi, sejumlah kios pedagang kaki lima (PKL) di sepanjang Jl Mayor Kusmanto dibongkar sendiri oleh para PKL menyusul dibongkarnya dinding yang mengelilingi Benteng Vastenburg yang selama ini menjadi tempat menempelnya kios-kios tersebut.

Pembongkaran dinding yang ada di seputar Benteng Vastenburg sendiri telah mulai dilakukan oleh petugas dari Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Pemkot Solo sejak tanggal Rabu (15/8) lalu.

Kasubdin Kebersihan DKP Pemkot Solo, Widodo menyatakan, Selasa (14/8), dirinya bersama para petugas Satpol PP telah memberikan pengarahan kepada para pemilik kios, bahwa dinding yang selama ini menjadi penyangga kios mereka akan dibongkar. Dalam pengarahan tersebut, para pedagang yang memiliki kios telah menyatakan persetujuan untuk melakukan pembongkaran, oleh karena mereka dijanjikan akan memperoleh atah selter sebagai pengganti kios yang dibongkar.

Pemkot Solo sendiri menetapkan batas waktu pembongkaran sampai dengan tanggal 28 Agustus. Untuk membantu proses pembongkaran kios-kios tersebut, para pedagang memperoleh fasilitas truk DKP untuk mengangkut dan memindahkan barang dagangan mereka.

KIOS DI JL. MAYOR KUSMANTO DIBONGKAR

Solo (Suara Solo)

Mulai Kamis (16/8) pagi, sejumlah kios pedagang kaki lima (PKL) di se­pan­jang Jl Mayor Kusmanto dibongkar sendiri oleh para PKL menyusul di­bong­karnya dinding yang mengelilingi Benteng Vastenburg yang selama ini men­jadi tempat menempelnya kios-kios tersebut.

Pembongkaran dinding yang ada di seputar Benteng Vastenburg sendiri te­lah mulai dilakukan oleh petugas dari Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Pemkot Solo sejak tanggal Ra­bu (15/8) lalu.

Kasubdin Kebersihan DKP Pem­kot Solo, Widodo menyatakan, Selasa (14/8), dirinya bersama para petugas Satpol PP telah memberikan pengarah­

kepada para pemilik kios, bahwa din­ding yang selama ini menjadi pe­nyangga kios mereka akan dibongkar. Dalam pengarahan tersebut, para peda­gang yang memiliki kios telah menya­ta­kan persetujuan untuk melakukan pem­bongkaran, oleh karena mereka di­jan­jikan akan memperoleh atah selter sebagai pengganti kios yang dibong­kar.

Pemkot Solo sendiri menetapkan ba­tas waktu pembongkaran sampai de­ngan tanggal 28 Agustus. Untuk mem­bantu proses pembongkaran kios-kios tersebut, para pedagang memperoleh fasilitas truk DKP untuk mengangkut dan memindahkan barang dagangan me­reka.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar